SEMINAR SUARA ANAK (SEMARAK): “Kita Beragam, Kita Teman
Oleh: Dwi Purwestri
ECCD-RC Jogja menyelenggarakan kegiatan SEMARAK (Seminar Suara Anak) dengan tema “Kita Beragam, Kita Teman” pada Kamis, 29 Januari 2026 di Jogja National Museum. Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi bagi suara dan pengalaman anak usia dini, sekaligus mengajak orang tua dan masyarakat untuk mendengar langsung perspektif anak tentang keberagaman dan pertemanan.
Pada Sesi I SEMARAK, tampil tujuh anak PAUD yang membagikan cerita dan pengalaman mereka secara percaya diri dan inspiratif. Sesi ini dimoderatori oleh Fransisca Ana Rukma Dewi, S.Psi, Direktur ECCD-RC Yogyakarta, dengan para penanggap: Dr. Dinar Westri Andini, M.Pd dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Suhendri, PhD dari SEAMEO CECCEP, serta Admila Rosada, M.Psi (Psikolog).

Beragam kisah anak memperlihatkan bagaimana nilai inklusi dan keberagaman telah tumbuh sejak usia dini. Aksara, misalnya, bercerita tentang latar belakang budaya Minang dan pengalamannya beradaptasi tinggal di Jawa. Ia menunjukkan bahwa perbedaan suku tidak menjadi penghalang untuk berteman.
Alif menampilkan karya dari tanah liat yang dijemur di atas genting rumah, membentuk berbagai objek kehidupan laut seperti hiu, cumi, rumput laut, bebatuan, dan ombak. Karyanya menunjukkan kreativitas sekaligus ketekunan dalam proses berkarya.

Geya menceritakan keragaman teman-temannya di sekolah, mulai dari perbedaan warna kulit, bentuk rambut, hingga kesukaan, sebagai hal yang menyenangkan. Sementara itu, Genta naik ke panggung dengan mengenakan helm dan berbagi cerita tentang dirinya yang memiliki ADHD. Ia menjelaskan bahwa dirinya membutuhkan lebih banyak gerak, sehingga bergabung dengan klub BMX untuk menyalurkan energinya. Ceritanya juga memicu interaksi hangat dengan audiens ketika seorang teman menanggapi dengan empati dan rasa syukur.
Fajrina (Nana) berbagi minatnya dalam menggambar, menyanyi, dan bermain peran. Ia menunjukkan gambar yang dibuatnya tentang diri dan teman-temannya, lengkap dengan perbedaan latar belakang agama dan pakaian yang mereka kenakan, sebuah refleksi sederhana namun kuat tentang keberagaman dalam keseharian anak.
Menjelang siang, sesi semakin menarik ketika Geva memperkenalkan bahasa isyarat dan mendemonstrasikan percakapan menggunakan bahasa isyarat bersama teman tuli bernama Jingga. Momen ini menjadi pembelajaran langsung tentang komunikasi inklusif dan saling memahami perbedaan kemampuan.
Kegiatan SEMARAK menegaskan bahwa anak usia dini mampu menyuarakan pengalaman, identitas, dan nilai pertemanan lintas perbedaan, jika diberi ruang untuk tampil, didengar, dan dihargai. Reportase ini menunjukkan pentingnya menghadirkan forum yang menempatkan suara anak sebagai pusat pembelajaran bersama
Kegiatan SEMARAK merupakan salah satu rangkaian dari program Open House ECCD-RC yang berlangsung pada 28 Januari hingga 1 Februari 2026. Selain seminar yang menampilkan para pencerita cilik, rangkaian kegiatan juga mencakup kelas orang tua dengan narasumber para ayah bertema “Mengasuh adalah Seni: Cerita Bapak-bapak tentang Rumah dan Anak”, yang menghadirkan refleksi pengasuhan dari perspektif ayah. Kegiatan lainnya meliputi seminar dan lokakarya “GEDSI dalam Aksi: Pendidikan yang Memberdayakan” yang menyoroti praktik pendidikan yang setara, inklusif, dan responsif terhadap keberagaman. ECCD-RC Yogyakarta sendiri merupakan anggota aktif Koalisi Nasional PAUD HI dan terus berkontribusi dalam penguatan ekosistem pengembangan anak usia dini yang holistik dan integratif.
Instagram ECCD-RC: https://www.instagram.com/eccdrc_jogja/


